Sore ini aku menyaksikan tayangan Kick Andy, tentang perilaku seks bebas dan pengaruh pornografi pada anak-anak dan usia remaja.
Ada sebuah kalimat yang sangat membuatku tersentuh.. Atau lebih tepatnya menamparku.
Mengingatkan aku atas apa yang terjadi di masa kecilku, keputusan yang aku ambil dalam hidupku, dan hidup yang kujalani sekarang.
Kalimat itu adalah :
Ada sebuah kalimat yang sangat membuatku tersentuh.. Atau lebih tepatnya menamparku.
Mengingatkan aku atas apa yang terjadi di masa kecilku, keputusan yang aku ambil dalam hidupku, dan hidup yang kujalani sekarang.
Kalimat itu adalah :
Anak-anak mudah terperosok ke dalam pornografi, seks bebas di usia dini, narkoba, atau hal-hal apapun yang menjerumuskan mereka ke hal-hal yang mengerikan dan tidak baik sekarang ini, semata-mata karena mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka, KETIKA MEREKA MEMBUTUHKAN, DALAM JUMLAH YANG CUKUP.
Mereka membutuhkan Validasi, terutama dari AYAH mereka.
AYAH untuk anak perempuannya, atau IBU untuk anak laki-lakinya.
Sebuah pengakuan akan adanya keberadaan dirinya dalam sebuah keluarga.
Hai Ayah! Dimanakah dirimu…?
KETIKA MEREKA MEMBUTUHKAN, DALAM JUMLAH YANG CUKUP…
Benar-benar membuatku terpaku dan termenung sejenak..
Mengingatku kembali ke masa kecilku…
Kedua orang tuaku bekerja dalam sebuah perusahaan yang sama.
Satu hal yang paling aku benci dan yang paling aku ingat adalah:
Ketika aku pulang sekolah, dalam keadaan lelah dan lapar, orang yang pertama kali ingin aku lihat begitu sampai di rumah adalah : IBUKU.
Tapi aku hanya bertemu dengan pembantu, atau saudara-saudara kandungku.
Benar-benar sosok yang dirindukan.
Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga, sekaligus wanita yang bekerja kantoran.
Dia pergi pagi hari, jam 6 pagi, untuk menghindari kemacetan, dan pulang jam 6 sore, tentu saja selalu bersama Bapakku.
Meskipun Ibu tidak pernah lembur sampai malam, nyaris tidak pernah membawa pekerjaan ke rumah, tapi tetap saja aku merindukan Ibuku.
Meskipun pulang dalam keadaan penat dan lelah, Ibu tetap saja memperhatikan anak-anaknya.
Kesehatan dan prestasi di sekolah selalu menjadi perhatian kedua orang tuaku.
Aku tidak menyalahkan Ibuku karena bekerja, juga tidak menyalahkan keadaan atau kondisi ekonomi saat aku kecil, sama sekali tidak!
aku hanya merasakan: aku merindukan Ibuku.
Dan perasaan ini tidak dapat dilupakan, dan tidak dapat dihapuskan dari ingatan.
Hal inilah yang membuatku bertekad:
Dan perasaan ini tidak dapat dilupakan, dan tidak dapat dihapuskan dari ingatan.
Hal inilah yang membuatku bertekad:
Kalau nanti aku punya anak, aku ingin menjadi orang yang pertama kali dia lihat dan dia temui, ketika dia membutuhkanku. Bukan orang lain.
Inilah yang membuatku memutuskan, kalau aku tidak akan bekerja bila aku mempunyai anak.
Ambisi? Tentu ada.
Semasa kuliah hampir setiap hari aku pulang mampir ke Gramedia, hanya karena haus akan ilmu. Entah ilmu apa yang aku cari, yang jelas aku ingin melakukan sesuatu yang baru.
Kesibukan mendapat proyek kecil-kecilan, juga mendapatkan uang dari hasil jerih payahku sendiri, tentu memberikan rasa kebanggaan dan kepuasan terhadap diri sendiri.
Menjelajahi internet, berteman dengan kawan di luar negeri, bayangan akan cita-cita menuntut ilmu di luar negeri, itu semua sudah menjadi angan-anganku.
Meskipun aku kini tidak bisa menggapai semuanya, keinginan itu tetap menggebu.
Ingin materi lebih? Itu pasti. Bohong bila aku bilang tidak butuh materi.
Akan tetapi semua itu terkalahkan hanya karena sebuah memori.
Memori akan rindunya seorang ibu. Aku tidak mau anakku mengalami hal yang sama denganku. Kerinduanku terobati ketika Ibuku pensiun. Itu setelah aku berusia 20 tahun ke atas.
Aku tidak mau anakku menunggu selama itu..
Kembali dengan kata-kata "mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka, KETIKA MEREKA MEMBUTUHKAN, DALAM JUMLAH YANG CUKUP."
sekarang menjadi selalu terngiang di kepalaku.
Bisakah aku memenuhinya, dalam perjalananku menjadi seorang Ibu?
sebuah ketakutan, meskipun aku memberikan seluruh waktuku untuk buah hati,
tetapi menjadi lalai dan tidak pernah memberikan kasih sayang dalam jumlah yang cukup...
Ya Rabb, semoga Engkau senantiasa membimbingku ....
PS: This is completely 101% curhat, no offense to any Moms in the world ....
PS: This is completely 101% curhat, no offense to any Moms in the world ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar