Kamis, 03 Februari 2011

Perjalanan Menjadi Seorang Ibu (2)


Setelah kepergian Sarah, aku cuma bisa merenung atas kejadian yang sudah menimpa kami. Alhamdulillah Baba cukup kuat dan sabar. Sementara Ibuku kadang-kadang masih terisak di sela-sela kegiatannya, karena teringat Sarah. Meskipun hanya berjumpa beberapa jam, tapi rasa sayang sudah timbul.

Aku memang sedih, tapi jarang menangis. AKu masih kuat ketika orang-orang datang untuk mengucapkan belasungkawa. Bahkan ketika menyaksikan video ketika Sarah dimandikan, aku masih bisa tidak menangis, karena aku tidak mau meratap, mengingat aku tidak mau menyiksa jenazah Sarah.

Hari ketiga atau keempat setelah persalinan, ketika aku mandi, aku menyaksikan ASI ku keluar. Langsung aku tidak bisa menahan tangisku. Berdiripun tidak bisa. Harus disusukan kepada siapa ASI ini..? ASI sebagai tanda menyusui, sebagai tanda kesempurnaan seorang Ibu.. Pecah dan meledaklah tangisku. Aku menangis sepuasnya... dan bertekad tidak akan menangis lagi setelah itu.


Kalau ditanya, apakah aku menyesal? tentu aku menyesal. Tapi aku nggak menyalahkan siapapun. Bahkan bidan yang menangani persalinanku. Untuk apa?
Sejuta kata 'seandainya' yang aku benci tidak akan mengubah keadaan.

Akhirnya aku ketahui kalau Sarah mengalami trauma di kepala, dan terlilit tali pusar hingga 2 kali.

Ternyata sangat sulit untuk tidak bersedih. Sejauh mata memandang, yang ada hanya sepasang ibu dan anak. Bahkan ketika berkumpul dengan keluarga besar, semua adik dan kakak sibuk dengan anaknya masing-masing. Ada yang rewel gak mau mandi, ada yang minta disuapin. Aku cuma nahan tangis saja, AKU INGIN SEPERTI ITUUUU!!!! ingin direpotkan oleh tingkah polah anakku...


Akhirnya Kami memutuskan untuk tinggal di rumah kami sendiri, yang memang sudah dipersiapkan semenjak belum menikah. Tinggal hanya berdua, tapi penghuni kompleks rata-rata seusia dan mempunyai 1-2 anak balita. Tentu saja hal ini bikin aku nangis lagi.

Dokter memutuskan, karena aku tidak keguguran, maka boleh hamil setelah minimal 3 bulan. Kami memutuskan untuk tidak menunda lagi. Benar rasanya seperti nyaris gila kalau lihat anak kecil.

Aku membulatkan tekad untuk stop bersedih dan bangkit. Banyak pelajaran yang aku ambil dari peristiwa ini. Di antaranya:

  1. Selalu meminta maaf kepada orang tua, terhadap apapun yang terjadi, meskipun kita tidak punya masalah sekali pun. (apalagi yang punya).
  2. Selalu mempersiapkan mental dan fisik segala sesuatu yang terburuk. Bukan berharap yang terburuk, tapi mempersiapkan sebaik mungkin, semaksimal yang bisa dilakukan, tapi juga harus siap untuk menerima kondisi yang terburuk yang tidak diharapkan.
  3. Tidak percaya kata-kata orang yang membuai sehingga membuat kita lalai.  Terus terang, aku lebih suka kata-kata yang meyakitkan, tapi itu adalah kenyataan daripada kata-kata yang baik danmenyejukkan, tapi kebohongan semata. Hal ini terkait dengan semua ucapan dokterku. Percaya boleh, tapi jangan sampai membuat aku lalai.
  4. Apapun yang terjadi, seburuk apapun itu, aku yakin aku pasti bisa melaluinya. Dengan keyakinan Allah tidak akan menguji di oluar batas kemampuanku.
  5. Jangan merasa puas dengan ilmu yang aku pikir "cukup". Terus gali lagi ilmu ilmu dan ilmu dari erbagai sumber.

Maka hari-hariku diisi dengan hunting berbagai artikel tentang kehamilan, persalinan.

Alhamdulillah.. 5 bulan kemudian, aku dinyatakan hamil lagi.
Kehamilan yang kedua ini membuatku serba takut. Takut berat badan yang sangat berlebih, takut minum vitamin ini itu, intinya tidak serajin kehamilan pertama.
Kehamilan kali ini aku berkonsultasi dengan dokter yang lumayan gahar.
Dokter yang kata orang suka memaki-maki, atau marah-marah kalau pasiennya lalai, terus juga suka nakut-nakuti, bahkan tak jarang membuat pasiennya menangis.

Tapi nggak tau kenapa, selama aku konsultasi sama dia, kok aku gak pernah dimarahi ya?
nggak ada tuh cerita yang serem-serem. Justru malah baiiiik banget.
yah, alhamdulillah. rejekiku kali ya :-)
Dokter mengatakan kalau air ketubanku sedikit. Jadi harus sering dan banyak minum.

Mendekati minggu-minggu akhir kehamilan, aku dilanda cemas luar biasa.
Persalinan yang pertama terus membayangiku.
Selalu ada ketakutan, bagaimana kalau aku melakukan kesalahan yang sama? sebuah nyawa akan melayang.. Oh No..

Ternyata kekhawatiranku membuat air ketubanku keruh, pertanda bayi juga stress..
aku tambah cemas dan cemas.
Cemas karena belum siap secara mental untuk melahirkan secara normal.
Juga cemas karena tidak mau mengalami operasi caesar  karena mengandung banyak resiko, meskipun kecenderungan bayi selamat lebih besar, dengan kegagalan kasus yang sangat jarang.

Agustus 2007, aku kontrol mingguan ke dokter. DOkter menyatakan air ketubanku mulai berkurang, dan diminta kontrol minggu depan. 
Karena cemas, tidak sampai seminggu, 3 harikemudian aku kontrol lagi, ternyata air ketuban juga semakin berkurang. Sisi sebelah bawah dan kiri perut sudah sedikit air ketubannya.
Akhirnya tanggal 8 Agustus sore dokter memutuskan kalau bayi harus dilahirkan, dan tidak mungkin dilakukan persalinan normal, karena air ketuban yang kurang dapat mengakibatkan tekanan yang hebat pada bayi.

Huff.... lega rasanya. Meskipun harus caesar, tapi kepastian kapan bayi akan dilahirkan mengurangi kecemasanku. 09 Agustus 2007, aku dijadwalkan untuk operasi caesar jam 9 pagi.

ternyata jam 8 pagi, semua kru udah siap. masuk ruang operasi yang super duper dingin dan sendirian, menunggu dokter dan tim yang lain datang. yang kulihat hanya lampu dan peralatan untuk operasi. Sekilas terbayang olehku persalinan yang lalu, sampai menitikkan air mata. Kemudian aku sadar, kalau aku harus kuat. 
Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Sekitar 15 menit kemudian bayiku lahir, dengan suara tangis yang kencaaaaang banget.
sambil dijahit aku mendengar dari ruangan yang lain berteriak "SIP DOK!!!"
Dokter hanya menyahut "OKE!!"

Bayi langsung dibawa ke ruangan bayi. Baba kemudian adzan di telinganya. Reaksi Baba kala itu hanya menangis. terharu antara percaya dan tidak percaya. 

Setelah melalui masa pemulihan akhirnya aku dibawa kembali ke kamar dan bertemu bayi mungilku.
Kami beri nama dia Kinanti Hanuun Anggraeni.
Welcome to the world baby girl...

*bersambung...*
                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar