Bismillah...
My dearest friends.. kali ini aku mau cerita tentang perjalananku menjadi seorang Ibu.
Sebenernya udah lama pengen berbagi cerita ini, tapi ini cerita yang sangat emosional buat aku, so males untuk diceritakan kepada siapapun.
So, here I go...
Aku menikah pada tanggal 13 Agustus 2005 dengan Asep Mulyana yang sekarang dipanggil Baba. Alhamdulillah diberi oleh Allah suami yang sabar, baik hati, dan tidak sombong, tapi ge-ernya alias penyakit pangerannya bisa bikin aku tepok jidat berkali-kali. Sifat kami yang saling bertolak belakang, alhamdulillah membuat hidupku jadi terasa lengkap, karena kami berusaha untuk saling melengkapi.
Dua bulan kemudian, aku hoek-hoek.
Karena biasa masuk angin, aku nggak curiga apa-apa. Justru Ibuku yang nyeletuk "hamil kali..". Tapi ah, masa sih..
Sementara Baba cuma senyum-senyuuuum aja. Tiap kali ngebahas malah ketawa terbahak-bahak. Sebenernya Baba mau bilang : "positif kali..", tapi khawatir akunya belum siap, mengingat waktu itu aku masih kuliah.
Ternyata eh ternyata, bener aku positif hamil. Alhamdulillah...
Seluruh keluarga besar merasa senang, karena ini adalah calon cucu perdana mereka (ibu bapakku khususnya), juga ditunggu-tunggu oleh Mamah dan Bapa, karena Baba anak laki-laki pertama yang paling terakhir menikah di keluarganya.
Selama kehamilan, aku berusaha mencari informasi hanya dari majalah-majalah saja. Saat itu aku belum kenal facebook, meski sudah kenal internet. Tapi internet hanya digunakan sebagai alat surat-menyurat saja.
Alhamdulillah kehamilanku juga tidak mengalami kendala yang berarti.
Aku rutin periksa ke dokter setiap bulan, minum vitamin yang diberikan, dan nafsu makan yang gila-gilaan membuat bobotku naik hingga 23 kg. Padahal, disinilah sumber masalahnya.
Hingga bulan terakhir kehamilan..
Minggu terakhir aku kontrol ke dokter, aku menanyakan apakah bayiku baik2 saja, perkiraan berat lahir, dsb. Dokter menyatakan semuanya OK. posisi OK, perkiraan berat lahir 3 kg, tidak terlilit tali pusar, tinggal menunggu hari saja.
Pilihan melahirkan ada di 2 tempat, yaitu di bidan dekat rumahku, dan Rumah sakit yang terdekat dari rumah juga.
Bidan yang ada kebetulan teman sepermainan kakakku, yang telah menjadi bidan yang handal, memiliki track record yang baik, juga mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Bahkan sering menyelamatkan seorang ibu yang tidak mampu melairkan bayi yang sungsang dengan selamat. Juga menyelamatkan seorang ibu melahirkan di pelosok desa tanpa listrik , hanya dengan bantuan cahaya lilin.
Hari itu, 18 Juli 2006, malam hari aku tidak bisa tidur. Si utun juga gerak-gerak terus gak mau diem. Perut seperti ingin BAB, tapi bolak-balik ke KM tetap saja tidak BAB. Seperti ingin kentut tapi gak bisa. Udah dibalur, udah nungging, tetap saja tidak ada perubahan apa-apa. Waktu itu aku masih tinggal di rumah orang tuaku. Seisi rumah sudah tidur. Akhirnya aku lanjutkan nonton film hingga jam 2 pagi.
Ternyata sekitar jam 3 pagi, air ketubanku pecah. Aku bangunkan ibuku saat itu juga. Ibu dan aku langsung ambil tas yang memang sudah dipersiapkan. Karena pertimbangan air ketuban sudah pecah, maka harus sesegera mungkin bayi dilahirkan. Akhirnya Ibu dan aku memutuskan untuk pergi ke bidan yang bisa ditempuh dalam waktu 5 menit saja.
Baba datang 3 jam kemudian, dari Bogor ke Bandung. menunggu di luar karena muntah2 gak kuat lihat darah pas sekitar pembukaan 7 ke atas.
Adik laki2ku menunggu di luar juga. Pacarnya adikku, Maharani, kebetulan kuliah di kedokteran, juga datang menyaksikan persalinanku.
Yah.. akhirnya disinilah perjuanganku. Setelah diberi induksi, akhirnya si jabang bayi mau keluar juga. Tapi gak tau kenapa, susssaaah banget keluarnya. Aku kehabisan tenaga karena tidak tidur semalaman. Bidan di ujung kakiku, Ibu menggenggam tanganku, sampai ibunya si Bidan ikut naik tempat tidur, di atas kepalaku, ikut mendorong sang bayi biar mau keluar. Tinggal sedikiiit lagi, sang bayi masuk lagi. Dua kali.. tiga kali... Bidan mendengarkan detak jantung bayi masi ada.
Akhirnya aku sungkem sama Ibuku, kemudian berniat dalam hati, mengerahkan seluruh sisa kekuatanku saat itu. Akhirnya... sang bayi pun dilahirkan.
Tidak ada tangis bayi. Aku mendengar bidan berkata "tidak bernafas".
15 menit berikutnya diusahakan untuk menyelamatan sang bayi. kaki dan tangannya digosok-gosok, dan entahlah diapakan. Pikiranku kosong saat itu. Tidak tau harus sedih atau gembira.
Akhirnya Maharani datang untuk menolong menyelamatkan bayi, sementara bidan kembali fokus ke aku, dan mengeluarkan ari-ari dan menjahitku.
Akhirnya terdengar suara batuk-batuk. Bayi pun segera dibungkus dengan kain dan langsung dilarikan ke RS terdekat. Ibuku saat itu terlalu gemetar untuk menyetir mobil. Akhirnya adik laki2ku yang membawa bayi, ibu, dan bidan ke RS.
Sementara aku masih terbujur nyaris telanjang. Darah masih berceceran karena semuanya fokus ke bayi. Tak lama kemudian Bapak datang, dan dia yang membersihkan semuanya, sebelum keluarga bidan yang lain datang membantu. Bapak nanya gimana perasaanku.
Aku bilang "gak tau pak.... mungkin ngerasa bersalah.." dengan suara yang nyaris ilang.
Benar2 saat itu hampa, kosong, menangis tidak, tertawa pun tidak.
Aku menginap selama 1 hari di klinik bidan. Berharap ingin menyusul ke RS. Bayiku berada dalam NICU. Aku hanya dengar dari Baba dan Ibu. Entahlah apa saja yang ditempel di tubuh mungilnya. Katanya ada semacam tabung seperti alat kompres yang kadang2 harus digelitik bila bayi menunjukkan tanda tidak bernafas.
Aku hanya bisa berdoa dan berdoa "Ya Allah..selamatkan bayiku... SELAMATKAN BAYIKUUUU!!"
Baba dan Ibu bergantian datang ke RS, sementara aku tidak diijinkan ke sana. Aku berharap barangkali pelukanku bisa menyelamatkan nyawanya. Aku hanya ingin..... menyentuhnya.
Ibu berulang kali menelponku kalau keadaannya baik2 saja, stabil, ada kemajuan, yang aku tau semuanya bohong.
Tepat tengah hari, Baba pulang, dan nangis sekeras-kerasnya di sampingku.
Aku tau ada apa, tapi tetap kutanyakan : "ada apa...?"
Baba pesimis kalau bayinya bisa selamat.
Aku hanya termenung. menit demi menit terasa lama. setiap menelpon, kabar dari Ibu selalu sama. Entah kenapa tiba-tiba, aku merasa ada yang "menunggu"ku.
Perasaan apa ini....
Apakah kamu menunggu Ibu, nak..? tanya batinku pada bayiku
Apa yang kamu tunggu , Nak..?
Akhirnya aku menyadari.
dan aku mengatakan dalam hati "Ibu ikhlas kalau kamu mau pergi sayang....."
"Betul Ibu ikhlas..."
kemudian doaku ku ganti... yang semula "Ya Alah selamatkan bayiku", menjadi
"Ya Allah .. berikanlah yang terbaik untuk bayiku, untuk anakku.."
tidak ada 1 menit semenjak aku "mengikrarkan" kalau aku ikhlas, Ibuku menelpon kalau bayinya sudah tidak ada... dokter suda memberika penguat jantung selama 3 kali, tapi tetap tidak bisa diselamatkan..
Ingiiin rasanya menangis tersedu-sedu, tapi tidak bisa, dan tidak ingin. aku tidak ingin menyiksa jenazah anakku. Aku menyuruh pembantuku untuk mengosongkan ruangan, siapkan karpet untuk pengajian dan sholat jenazah, juga memanggil ustad.
Akhirnya Ibuku datang membawanya. Terbalut dalam selimut pink..
Subhanallah...!!! cantik sekali... suhu tubuhnya masih hangat. Ingin aku menggendongnya, memeluknya, dan menciumnya. Tapi aku takut aku tidak akan bisa melepaskannya. Aku tidak mau menyiksa jenazah anakku lebih lama lagi.
Kemudian bayiku dimandikan ulang. Aku hanya bisa menyaksikan rambutnya yang lebat..
Kulitnya yang halus, bersih, tidak ada keriput2 seperti bayi pada umumnya. Tulang-tulangnya sudah kuat. Betapa sempurna ciptaanMu ini ya Allah...
Hingga Akhirnya dia dikafani. Pak Ustad mempersilahkan aku untuk melihat yang terakhir kalinya. Aku hanya mengusap bibirnya yang merah dan mungil.
Kemudian aku dan Baba ingin menguburkannya segera. Kami sepakat untuk tidak menunggu siapapun. juga tidak menunggu bapak mamah mertuaku.
Baba tidak sanggup untuk membopong jenazahnya. Akhirnya diwakili oleh adik2ku.
Kami kuburkan dia dengan nama yang sudah kami persiapkan sebelumnya
Sarah Azmi Nariswari binti Asep Mulyana.
Maafkan Bubu Nak... Maafkan Bubu..
dalam perjalanan menjadi Ibu kali ini, Bubu belum dipercaya Allah sayang...
***bersambung***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar